CAHAYA DAN KEGELAPAN


STIKOM MUHAMMADIYAH BATAM

CAHAYA DAN KEGELAPAN

Allah berfirman:

“Sesiapa yang buta di dunia buta juga di akhirat”. (Surah Bani Israil, ayat 72).

Bukan buta mata yang di kepala tetapi buta mata yang di hati yang menghalang seseorang daripada melihat cahaya hari akhirat.

Firman Allah:

“Bukan matanya yang buta tetapi hatinya yang di dalam dada”. (Surah Hajj, ayat 46).

         Hati menjadi buta disebabkan oleh kelalaian, yang membuat seseorang lupa kepada Allah dan lupa kepada kewajipan mereka, tujuan mereka, ikrar mereka dengan Allah, ketika mereka masih berada di dalam dunia. Sebab utama kelalaian adalah kejahilam terhadap hakikat (kebenaran) undang-undang dan peraturan Tuhan.

         Apa yang menyebabkan seseorang itu berterusan di dalam kejahilam ialah kegelapan yang menyeluruh menutupi seseorang dari luar dan sepenuhnya menguasai batinnya. Sebahagian daripada nilai-nilai itu yang mendatangkan kegelapan ialah sifat-sifat angkuh, sombong, megah, dengki, bakhil, dendam, bohong, mengumpat, fitnah dan lain-lain sifat keji. Sifat-sifat yang keji itulah yang merendahkan ciptaan Tuhan yang sangat baik sehingga jatuh kepada tahap yang paling rendah.
Untuk membebaskan seseorang daripada kejahatan itu dia perlu menyucikan dan menyinarkan cermin hatinya. Penyucian ini dilakukan dengan mendapatkan pengetahuan, dengan beramal menurut pengetahuan itu, dengan usaha dan keberanian, melawan ego diri, menghapuskan yang banyak pada diri, mencapai keesaan. Perjuangan ini berterusan sehingga hati menjadi hidup dengan cahaya keesaan – dan dengan cahaya keesaan itu mata bagi hati yang suci akan melihat hakikat sifat-sifat Allah di sekeliling dan pada dirinya.
Hanya selepas itu baharu kamu ingat akan kediaman kamu yang sebenar yang darinya kamu datang. Kemudian kamu akan ada rasa kerinduan dan keinginan untuk kembali kepada rumah kediaman yang sebenar, dengan pertolongan Yang Maha Mengasihani roh suci pada diri kamu akan menyatu dengan-Nya.
Bila sifat-sifat kegelapan terangkat cahaya mengambil alih tempatnya dan orang yang memiliki mata rohani akan melihat. Dia mengenali apa yang dia lihat dengan cahaya nama-nama sifat Ilahiah. Kemudian dirinya dibanjiri oleh cahaya dan bertukar menjadi cahaya. Cahaya ini masih lagi hijab menutupi cahaya suci Zat, tetapi masanya akan sampai bila ini juga akan terangkat, yang tinggal hanya cahaya suci Zat itu sendiri.

         Hati mempunyai dua mata, satu yang sempat dan satu lagi yang luas. Dengan mata yang sempat seseorang boleh melihat kenyataan sifat-sifat dan nama-nama Allah. Penglihatan ini berterusan sepanjang perkembangan kerohaniannya. Mata yang luas melihat hanya kepada apa yang dijadikan kelihatan oleh cahaya keesaan dan yang esa. Hanya bila seseorang sampai kepada daerah kehampiran dengan Allah dia akan melihat, di dalam alam penghabisan bagi kenyataan Zat Allah, Yang Esa dan Mutlak.
Bagi mencapai makam-makam ini ketika masih di dalam dunia, di dalam kehidupan ini kamu mestilah membersihkan diri kamu daripada sifat-sifat keduniaan, yang ego dan keegoan. Jarak yang kamu mengembara di dalam kenaikan kamu ke arah makam-makam tersebut bergantung kepada sejauh mana kamu mengasingkan diri daripada hawa nafsu yang rendah dan ego diri kamu.
Pencapaian kamu kepada matlamat yang kamu inginkan bukanlah seperti barang kebendaan sampai ke tempat kebendaan. Ia juga bukan ilmu yang membawa seseorang kepada sesuatu yang menjadi diketahui (daripada tidak tahu), juga bukan pertimbangan yang memperolehi apa yang difikirkan, bukan juga khayalan yang menyatu dengan apa yang dikhayalkan. Matlamat yang kamu ingin capai ialah kesedaran tentang ketiadaan (kekosongan) kamu daripada segala sesuatu kecuali Zat Allah. Pencapaian ini adalah perubahan suasana yang terjadi, bukan perubahan pada sesuatu yang nyata. Di sana tiada jarak, tiada dekat atau jauh, tiada kesampaian, tiada ukuran, tiada arah, tiada ruang.
Dia Maha Besar, segala puji untuk-Nya. Dia Maha Pengampun. Dia menjadi nyata dalam apa yang Dia sembunyikan daripada kamu. Dia menyatakan Diri-Nya sebagaimana Dia melabuhkan tirai di antara Dia dengan kamu. Pengenalan tentang Diri-Nya tersembunyi di dalam ketidakupayaan mengenali-Nya.
Jika ada di antara kamu yang sampai kepada cahaya yang diterangkan dalam buku ini ketika kamu masih lagi berada di dalam dunia, buatlah muhasabah (hisab) terhadap diri kamu, buku catatan kamu tentang amalan kamu. Hanya di bawah cahaya kamu boleh melihat apa yang kamu sudah buat dan sedang buat; buat kiraan kamu, seimbangkannya. Kamu akan membaca buku catatan kamu di hadapan Tuhan kamu pada hari pembalasan. Itu adalah muktamad. Kamu tidak ada peluang mengimbanginya di sana. Jika kamu lakukan di sini ketika kamu masih ada masa, kamu akan termasuk ke dalam golongan yang diselamatkan. Jika tidak azab dan seksa menjadi bahagian kamu di akhirat. Hidup ini akan berakhir. Di sana ada azab di dalam kubur, ada hari pembalasan, ada neraka yang menimbang sehingga kepada dosa yang paling kecil dan kebaikan yang paling kecil. Kemudian ada jambatan yang lebih halus daripada rambut dan lebih tajam daripada mata pedang, penghujungnya ialah taman, sementara di bawahnya ialah neraka yang penuh dengan kecelakaan, penderitaan, semuanya adalah berkekalan apabila kehidupan yang singkat ini berakhir.

cropped-a0

55

Sumber: https://plus.google.com/

Dipublikasi di TAUHID

ABU NAWAS MENGHINA RAJA MALAH DIBERI HADIAH


ABU NAWAS

ABU NAWAS MENGHINA RAJA MALAH DIBERI HADIAH

Awalnya raja memerintahkan prajurit menangkap Abu Nawas untuk dihukum

Pada suatu hari, konon Abu Nawas menghina Raja Harun Al-Rasyid, bukannya kena hukum atau mara, ABu Nawas malah dapat hadiah. Alkisah, suatu ketika Raja Harun Al-Rasyid dalam sebuah perjalanan, dalam perjalanan tersebut sang raja merasakan sakit perut dan ingin membuang hajat.

Pada masa itu belum dikenal tempat buang hajat bernama toilet. Raja Harun Al-Rasyid memerintahkan prajuritnya untuk mengantarkan dirinya ke sungai untuk buang hajat.

Sampai di sungai, sang raja akhirnya buang hajat di tengah air yang mengalir deras. Pada waktu bersamaan, masyarakat sudah paham bahwa sangat dilarang keras buang hajat di bagian hulu sungai tersebut, dikhawatirkan kotoran akan mengalir ke arah raja. Bagi yang melanggar, pastinya akan mendapat hukuman berat.

Namun, Abu Nawas tak merisaukan kebiasaan tersebut. Dengan santai, Abu Nawas buang hajat di hulu sungai di mana raja juga sedang membuang hajat. Kotoran Abu Nawas akhirnya mengalir ke hilir dan mengenai sang raja. Raja kaget bukan kepalang, dan naik pitam.

Raja kemudian meminta prajurit menyusuri sungai dan menangkap orang yang buang hajat di depan. Tak butuh waktu lama, prajurit akhirnya menangkap Abu Nawas yang sedang santai buang hajat. Prajurit kemudian membawa Abu Nawas menghadap raja.

Atas perbuatannya tersebut, Abu Nawas terancam mendapat hukuman. Namun Abu Nawas protes kepada raja kenapa harus ditangkap. Raja pun akhirnya menjawab, Abu Nawas dianggap telah menghina raja karena buang hajat di depan raja.

“Kamu tak memiliki tata krama buang hajat di depanku hingga kotoranmu mengenaiku,” bentak raja.

“Raja sepertinya salah paham,” jawab Abu Nawas.

“Tak usah banyak alasan, kamu harus dihukum,” ujar raja geram.

“Saya melakukan ini (buang hajat di hulu) agar bisa menghargai engkau baginda,” jawab Abu Nawas.

Mendengar alasan Abu Nawas, Harun Al-Rasyid dibuat tertegun. “Kenapa perbuatan kamu buang hajat seperti itu dibilang menghormati aku,” tanya raja.

“Begini, selama ini jika raja tengah mengadakan perjalanan dengan rakyat atau bersama prajurit, tidak ada di antara mereka yang berani mendahului jalan raja. Begitu juga dengan saya, ketika saya ikut rombongan raja, posisi ketika berjalan tidak berani mendahului Raja. Itu saya lakukan karena saya menjaga tata krama dan sopan santun kepada Raja,” kata Abu Nawas.

“Ya bagus, tapi apa hubungannya dengan perbuatanmu sekarang ini?” tanya raja.

“Begini raja, saya menghormati engkau tidak setengah-setengah. Ketika saya buang hajat, saya memilih di hulu sungai agar kotoran saya tidak sopan kepada kotoran raja karena sudah berani berjalan mendahului kotoran raja. Ini semua saya lakukan demi tata krama saya kepada kotoran raja,” jelas Abu Nawas.

Mendengar penjelasan Abu Nawas, raja tersenyum

dan tidak jadi marah atau menghukum Abu Nawas, tetapi Abu Nawas malah diberi hadiah karena alasannya masuk akal.

 

Dipublikasi di CERITA LUCU ABU NAWAS, Uncategorized | Meninggalkan komentar

CERITA ABU NAWAS MENYURUH RAJA MENCIUM PANTAT AYAM


ABU NAWAS

CERITA ABU NAWAS MENYURUH RAJA MENCIUM PANTAT AYAM

Suatu hari Raja Harun Ar-Rasyid merasa geram dengan sikap Abu Nawas. Ya, beberapa kali Abu Nawas sudah membuat dirinya malu di depan para pejabat kerajaan. Muncul rasa dendam di hatinya, akhirnya sang raja hendak membuat jebakan untuk Abu Nawas. Seperti biasa, jika Abu Nawas gagal maka akan mendapatkan hukuman.

Raja Harun Ar-Rasyid pun akhrinya memanggil Abu Nawas untuk menghadap dirinya. Sang raja pun lalu memberikan pertanyaan.

Wahai Abu Nawas, di depan mejaku itu ada sepanggang daging ayam yang lezat dan enak dilahap, tolong segera ambilkan,” perintah sang raja.

Abu Nawas merasa bingung dengan perintah itu, karena tak biasanya ia disuruh mengambilkan makanan raja.

Abu Nawas akhirnya menuruti perintah itu. Ia pun mengambil ayam panggang sang raja, kemudian memberikannya kepada raja. Namun, sang Raja belum langsung menerimanya, ia bertanya lagi.

Abu Nawas, di tangan kamu ada sepotong ayam panggang lezat, silahkan dinikmati.” Raja memberikan perintah lagi.

Baru saja Abu Nawas hendak menyantap ayam panggang tersebut, tiba-tiba raja berkata lagi,

Tapi ingat Abu Nawas, dengarkan dulu petunjuknya. Jika kamu memotong paha ayam itu, maka aku akan memotong pahamu dan jika kamu memotong dada ayam itu, maka aku akan memotong dadamu. Tidak hanya itu saja, jika kamu memotong dan memakan kepala ayam itu, maka aku akan memotong kepalamu. Akan tetapi kalau kamu hanya mendiamkan saja ayam panggang itu, akibatnya kamu akan aku gantung,” titah sang Raja kepada Abu Nawas.

Abu Nawas pun merasa bingung dengan petunjuk yang dititahkan rajanya itu. Dalam kebingungannya, ia semakin yakin jika hal itu hanya akal-akalan sang Raja saja demi untuk menghukumnya. Tak cuma Abu Nawas saja yang tegang, melainkan semua pejabat kerajaan yang hadir di istana tampak tegang pula.

Sepuluh menit lamanya, Abu Nawas hanya membolak-balikkan ayam panggang itu. Kemudian Abu Nawas mulai mendekatkan ayam panggang itu tepat di indera penciumannya.

Para hadirin yang datang atas undangan raja mulai bingung dan tidak mengerti apa yang dilakukan Abu Nawas. Kemudian terlihat Abu Nawas mencium bagian pantat ayam bakar yang kelihatan sangat lezat itu.

Jika saya harus memotong paha ayam ini, maka Baginda akan memotong pahaku, jika saya harus memotong dada ayam ini, maka Baginda akan memotong dadaku, jika saya harus memakan dan memotong kepala ayam ini, Baginda akan memotong kepalaku, tetapi coba lihat, yang saya lakukan adalah mencium pantat ayam ini,” kata Abu Nawas.

Apa maksudmu, wahai Abu Nawas,” tanya Baginda Raja.

Maksud saya adalah kalau saya melakukan demikian maka Baginda juga akan membalasnya demikian, layaknya ayam ini. Nah, saya hanya mencium pantat ayam panggang ini saja, maka Baginda juga harus mencium pantat ayam panggang ini pula,” jelas Abu Nawas.

Sontak saja penjelasan Abu Nawas itu membuat para pejabat yang hadir menahan tawa, tetapi ragu-ragu karena takut dihukum raja. Sementara itu, raja yang mendengar ucapan Abu Nawas mulai memerah mukanya karena malu untuk kesekian kalinya. Untuk menutupi rasa malunya itu, Raja memerintahkan Abu Nawas untuk pulang dan membawa pergi ayam panggang yang lezat itu.

Wahai Abu Nawas, cepat pulanglah, jangan sampai aku berubah pikiran,” kata raja.

Ketika sampai di rumah, Abu Nawas mengundang tetangganya untuk berpesta ayam panggang. Untuk kesekian kalinya, Abu Nawas kembali sukses mempermalukan Raja Harun Ar-Rasyid di depan para pejabat kerajaan.

 

Dipublikasi di CERITA LUCU ABU NAWAS, Uncategorized | Meninggalkan komentar

FIRMAN ALLAH PADA SURAT QS, 7:179


QS 7; 179

FIRMAN ALLAH PADA SURAT QS, 7:179

3 Penegasan Allah pada surat QS, 7:179

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيْرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْاِنْسِۖ لَهُمْ قُلُوْبٌ لَّا يَفْقَهُوْنَ بِهَاۖ وَلَهُمْ اَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُوْنَ بِهَاۖ وَلَهُمْ اٰذَانٌ لَّا يَسْمَعُوْنَ بِهَاۗ اُولٰۤىِٕكَ كَالْاَنْعَامِ بَلْ هُمْ اَضَلُّ ۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْغٰفِلُوْنَ (١٧٩)

Terjemah :
Dan sungguh, akan Kami isi neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah.

Tafsir Ringkas Kemenag :

Jika pada ayat yang lalu berbicara tentang siapa yang mendapat petunjuk dan disesatkan, pada ayat ini dijelaskan mengapa seseorang tidak mendapat petunjuk dan mengapa pula yang lain disesatkan.

Dan demi keagungan dan kekuasaan Kami, sungguh, akan Kami isi neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia karena kesesatan mereka.

Hal itu karena
1. mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami ayat-ayat Allah

2. mereka memiliki mata tetapi tidak dipergunakannya untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah

3. mereka mempunyai telinga tetapi tidak dipergunakannya untuk mendengarkan ayat-ayat Allah.

Mereka layaknya seperti hewan ternak yang tidak menggunakan akal yang diberikan Allah untuk berpikir, bahkan mereka sebenarnya lebih sesat lagi dari binatang, sebab, binatang itu”dengan instinknya” akan selalu mencari kebaikan dan menghindari bahaya, sementara mereka itu malah menolak kebaikan dan kebenaran yang ada. Mereka itulah orang-orang yang lengah.
Demikianlah, seseorang terjerumus ke dalam neraka karena mengabaikan tanda-tanda keesaan Allah dan tidak mengingat-Nya.

Maka pada ayat ini, Allah mengingatkan agar kita tidak melalaikannya dan selalu memanggil-Nya dengan nama-nama-Nya yang terbaik. Dan hanya Allah Yang memiliki al-Asma º al-aˆusna , yakni nama-nama terbaik yang menunjukkan keagungan dan kemahasempurnaan-Nya, maka berdoalah dan bermohonlah kepada-Nya dengan menyebutnya, yaitu al-Asma alaˆusna itu. Dan tinggalkanlah serta waspadalah terhadap orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dengan menyalahartikan nama-nama-Nya. Jangan dihiraukan orang-orang yang menyembah Allah dengan menyebut nama-nama yang tidak sesuai dengan sifat-sifat keagungan Allah, atau dengan memakai al-Asma al-Husna , tetapi dengan maksud menodai nama Allah atau mempergunakan al-Asma al-Husna untuk nama-nama selain Allah. Mereka kelak, di dunia atau di akhirat, akan mendapat balasan yang sesuai dengan kadar kedurhakaan mereka disebabkan apa yang telah mereka kerjakan.

Tafsir Kemenag :

Kemudian Allah dalam ayat ini menguraikan apa yang tidak terperinci pada ayat-ayat yang lampau tentang hal-hal yang menyebabkan terjerumusnya manusia ke dalam kesesatan.

Allah menjelaskan banyak manusia menjadi isi neraka Jahanam seperti halnya mereka yang masuk surga, sesuai dengan amalan mereka masing-masing.

Hal-hal yang menyebabkan manusia itu diazab di neraka Jahanam ialah:

– bahwa akal dan perasaan mereka tidak dipergunakan untuk memahami keesaan dan kebesaran Allah, padahal kepercayaan pada keesaan Allah itu membersihkan jiwa mereka dari segala macam was-was dan dari sifat hina serta rendah diri, lagi menanamkan pada diri mereka rasa percaya terhadap dirinya sendiri.
Demikian pula mereka tidak menggunakan akal pikiran mereka untuk kehidupan rohani dan kebahagiaan abadi. Jiwa mereka terikat kepada kehidupan duniawi, sebagaimana difirmankan Allah:

“Mereka mengetahui yang lahir (tampak) dari kehidupan dunia, sedangkan terhadap (kehidupan) akhirat mereka lalai.” (ar-Rum/30: 7)
Mereka tidak memahami bahwa tujuan mereka diperintahkan menjauhi kemaksiatan, dan berbuat kebajikan, adalah untuk kebahagiaan dunia dan akhirat. Mereka tidak memahami hukum-hukum masyarakat dan pengaruh kepercayaan agama Islam dalam mempersatukan umat. Mereka tidak memahami tanda-tanda keesaan Allah, baik dalam diri manusia maupun yang ada di permukaan bumi. Mereka tidak memahami dan merenungkan wahyu Tuhan yang disampaikan kepada Rasul-Nya.
Mereka mempunyai mata, tetapi tidak dipergunakan untuk melihat bukti kebenaran dan keesaan Allah. Segala kejadian dalam sejarah manusia, segala peristiwa yang terjadi dalam kehidupan manusia setiap hari, yang dilihat dan yang didengar, tidak menjadi bahan pemikiran dan renungan untuk dianalisa dan hal ini disimpulkan Allah dalam firman-Nya:

“Dan Kami telah memberikan kepada mereka pendengaran, penglihatan dan hati; tetapi pendengaran, penglihatan, dan hati mereka itu tidak berguna sedikit pun bagi mereka, karena mereka (selalu) mengingkari ayat-ayat Allah dan (ancaman) azab yang dahulu mereka memperolok-olokkannya telah mengepung mereka.” (al-Ahqaf/46: 26)

Mereka tidak dapat memanfaatkan mata, telinga, dan akal sehingga mereka tidak memperoleh hidayat Allah yang membawa mereka kepada kebahagiaan dunia dan akhirat. Keadaan mereka seperti binatang bahkan lebih buruk dari binatang, sebab binatang tidak mempunyai daya-pikir untuk mengolah hasil penglihatan dan pendengarannya. Binatang bereaksi dengan dunia luar berdasarkan naluri dan bertujuan hanyalah untuk mempertahankan hidup. Dia makan dan minum, serta memenuhi kebutuhannya, tidaklah melampaui dari batas kebutuhan biologis hewani. Tetapi bagaimana dengan manusia, bila sudah menjadi budak hawa-nafsu. Dan akal mereka tidak bermanfaat lagi. Mereka berlebihan dalam memenuhi kebutuhan jasmani mereka sendiri, berlebihan dalam mengurangi hak orang lain. Diperasnya hak orang lain bahkan kadang-kadang di luar perikemanusiaan.
Bila sifat demikian menimpa satu bangsa dan negara, maka negara itu akan menjadi serakah dan penindas bangsa dan negara lain. Mereka mempunyai hati (perasaan dan pikiran), tetapi tidak digunakan untuk memahami ayat-ayat (Allah). Mereka lupa dan melalaikan bukti-bukti kebenaran Allah pada diri pribadi, pada kemanusiaan dan alam semesta ini, mereka melupakan penggunaan perasaan dan pikiran untuk tujuan-tujuan yang luhur dan meninggalkan kepentingan yang pokok dari kehidupan manusia sebagai pribadi dan bangsa.
Semoga Allah SWT selalu meridhoi kita semua dan semoga bermanfaat, dan mari kita saling berbagi dan saling mengingati dalam hal kebenaran dan kesabaran.

Dipublikasi di AQIDAH | Meninggalkan komentar

PEMBIMBING ROHANIMU


26239231_1584136525008274_1980781113387137488_n

CARILAH PEMBIMBING ROHANIMU

Pesan Syeikh Abdul Qadir Al Jailani

” Jika ingin mencari guru yang mursyid yang dapat membimbing perjalanan kerohanian dan memasuki maqam tauhid :

Bangunlah pada sepertiga malam, lakukan solat dua rakaat dan berdoalah seperti berikut :

” Ya Tuhanku..! Tunjukkanlah kepadaku hamba-hambaMu yang soleh. Tunjukkanlah kepadaku orang-orang yang mampu membimbingku kepada Engkau, iaitu orang-orang yang memberi makan kepadaku dengan makanan Engkau, yang memberi minum dengan minuman Engkau, memberi celak mata kedekatanku dengan cahaya kedekatan Engkau dan memberi tahu kepadaku akan sesuatu yang sudah dilihatnya dengan nyata, bukan dengan sekadar taklid atau ikut-ikutan. ”

” Ya Allah, tunjukkanlah aku kepada seorang hamba daripada hamba-hambaMu yang soleh untuk menyampaikan aku kepada keredhaanMu dan memperkenalkan aku jalan menuju keredhaan itu. ”

Dipublikasi di TAUHID | Meninggalkan komentar

DZIKIR MENCAPAI CAHAYA ILAHI


67210935_2341917699230149_8138577170353094656_n

Berdzikir untuk mencapai Cahaya Iahi

بسم الله الرحمن الرحيم

 

Dipublikasi di TAUHID | Meninggalkan komentar

Bacaan sholat Fardhu


78637113_2830587436965621_7356705866201956352_n

Bacaan sholat Fardhu

Sholat adalah tiang agama. Selain itu, sholat wajib adalah sholat Fardhu yang kedua. Setiap orang islam yang telah baligh dan berakal, wajib hukumnya untuk melakukan sholat wajib.

Sholat wajib 5 waktu mulai dari Subuh, Dhuhur, Asar, Maghrib, dan Isya adalah kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan. Anda bisa menjalankan sholat Fardhu di awal waktu untuk mendapatkan pahala yang lebih berlimpah.

Kewajiban mutlak yang harus dilakukan oleh umat islam ini berbeda dengan ibadah haji. Dalam beribadah sholat 5 waktu, Anda tidak memerlukan syarat khusus.

Selagi seseorang dalam keadaan normal dan sehat, maka kewajibannya untuk melakukan sholat 5 waktu harus dipenuhi.

Sholat wajib atau sholat fardhu merupakan sholat yang sudah ditentukan waktunya. Masing-masing sholat harus dilakukan pada waktunya masing-masing.

Terdapat aturan mulai dari jam berapa hingga jam berapa Anda harus melakukan sholat subuh, dhuhur, ashar, maghrib, isya dan subuh.

Sangat dianjurkan bagi Anda untuk melakukan sholat di awal waktu. Jadi, ketika Anda mendengar adzan berkumandang, Anda harus siap dan bergegas untuk sholat.

Perintah untuk melakukan sholat 5 waktu telah disampaikan dalam Al Quran dalam surah An Nisa ayat 103 bahwa sholat fardhu telah ditentukan waktunya untuk orang-orang yang beriman.

Firman Allah tentang sholat wajib pada surah An Nisa ayat 103:

اِنَّ الصَّلٰوۃَ کَانَتۡ عَلَی الۡمُؤۡمِنِیۡنَ کِتٰبًا مَّوۡقُوۡتًا

Artinya:

“Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman”.

Oleh karena itu, dirikanlah sholat karena sholat merupakan kewajibannya orang islam. Siapa saja yang mengerjakan sholat harus mentaati dan mengetahui syarat dan rukun yang telah ditentukan.

Ketentuan dan syarat untuk melakukan sholat wajib pun telah diatur dalam Al Quran.

Syarat Wajib Sholat

Setiap orang islam yang akan melaksanakan ibadah sholat harus mengetahui syarat dan rukun sholat. Jika syarat wajib sholat tidak dipenuhi, maka sholat yang dilakukan pun menjadi tidak sah.

Salah satu syarat sah sholat adalah bersuci dari hadas dan najis. Jika Anda sholat namun masih bernajis, maka sholat yang Anda tunaikan pun menjadi tidak sah.

Berikut Syarat Wajib Sholat

  1. Mengetahui masuknya waktu sholat

Syarat sah sholat yang pertama adalah telah masuk waktu sholat. Tidak sah sholat yang dilakukan oleh seseorang sebelum memasuki waktu sholat atau pun setelah keluar waktu sholat.

Sebagai tanda kalau sudah masuknya waktu sholat adalah dikumandangkannya adzan di setiap masjid atau mushola yang ada di sekitar Anda.

  1. Suci dari hadas besar dan hadas kecil

Anda harus suci dari hadas besar dan hadas kecil sebelum melakukan sholat. Jika Anda memiliki hadas besar, maka Anda harus melakukan mandi wajib atau mandi junub terlebih dahulu sebelum melakukan sholat. Setelah itu, sucikan diri Anda dari najis dengan cara berwudhu.

  1. Suci badan, baju, dan tempat yang digunakan untuk sholat

Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Surah Al Muddatstsir ayat 4 yang memerintahkan manusia untuk membersihkan pakaian.

وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ

Artinya:

“Dan Pakaianmu bersihkanlah.” (Al-Muddatstsir ayat 4).

Dari hadis tersebut menunjukkan bahwa setiap orang yang akan melakukan sholat harus suci dari hadas dan najis termasuk juga pakaiannya..

Sedangkan dalil tentang sucinya tempat yang digunakan adalah atas dasar Sabda Rasulullah terhadap seorang Badui yang kencing di Masjid.

Rasulullah bersabda:

أَرِيْقُوْا عَلى بَوْلِهِ سَجْلاً مِنْ مَاءٍ

Artinya:

“Siramlah air kencingnya dengan menggunakan air satu ember”.

Namun, jika seorang muslim yang melakukan sholat fardhu dan ia tidak mengetahui bahwa ia terkena najis, maka sholatnya sah dan ia tidak wajib untuk mengulang sholatnya.

Namun ketika ia kemudian mengetahui bahwa dia terkena najis, maka ia wajib menghilangkan najis terlebih dahulu dan kemudian sholat.

Semua syarat sah wajib di atas harus dipenuhi untuk mendapatkan sholat yang sah. Untuk melakukan sholat wajib, Anda juga harus mengetahui tata caranya yang benar.

Tata Cara dan Bacaan Sholat Lengkap

Berikut tata cara sholat dengan bacaan sholat lengkap.

1. Niat

1-niat-sholat

Tata cara pertama adalah melafalkan niat. Dalam membaca niat sholat bisa dibaca dengan suara lirih atau dibaca dalam hati. Dianjurkan untuk tidak mengucapkan niat dengan suara keras.

Untuk niat sholat wajib memiliki niat yang berbeda-beda. Berikut niat sholat wajib.

a. Niat sholat Subuh

NIAT SHHOLAT

Bacaan Niat Sholat Subuh Arab

أُصَلِّى فَرْضَ الصُّبْح رَكَعتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً لله تَعَالَى

Bacaan Niat Sholat Subuh Latin

“Usholli Fardlon Shubhi Rok’ataini Mustaqbilal Qiblati Adaa-an Lillahi ta’aala”

Arti Niat Sholat Subuh

“Aku niat melakukan sholat fardu subuh 2 rakaat, sambil menghadap qiblat, saat ini, karena Allah ta’ala”

b. Niat Sholat Dhuhur

NIAT SHOLAT ZUHURcopy

Bacaan Niat Sholat Dhuhur Arab

اُصَلِّيْ فَرْضَ الظُّهْرِ أَرْبَعَ رَكَعاَتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً لله تَعَالَى

Bacaan Niat Sholat Dhuhur Latin

“Usholli Fardlon dhuhri Arba’a Rok’aataim Mustaqbilal Qiblati Adaa-an Lillahi ta’aala”

Arti Niat Sholat Dhuhur

“Aku niat melakukan sholat fardu dhuhur 4 rakaat, sambil menghadap qiblat, saat ini, karena Allah ta’ala”

c. Niat Sholat Ashar

NIAT SHHOLAT ASHAR

Bacaan Niat Sholat Ashar Arab

أُصَلِّى فَرْضَ العَصْرِأَرْبَعَ رَكَعاَتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً لله تَعَالَى

Bacaan Niat Sholat Ashar Latin

“Usholli Fardlol Ashri Arba’a Roka’aataim Mustaqbilal Qiblati Adaa-an Lillahi ta’aala”

Arti Niat Sholat Ashar

“Aku niat melakukan sholat fardu ashar 4 rakaat, sambil menghadap qiblat, saat ini, karena Allah ta’ala”

d. Niat Sholat Maghrib

NIAT SHHOLAT MAGRIP

Bacaan Niat Sholat Maghrib Arab

أُصَلِّى فَرْضَ المَغْرِبِ ثَلاَثَ رَكَعاَتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً لله تَعَالَى

Bacaan Niat Sholat Maghrib Latin

“Usholli Fardlol Maghribi Tsalaatsa Roka’aataim Mustaqbilal Qiblati Adaa-an Lillahi ta’aala”

Arti Niat Sholat Maghrib

“Aku niat melakukan sholat fardu maghrib 3 rakaat, sambil menghadap qiblat, saat ini, karena Allah ta’ala”

e. Niat sholat Isya

NIAT SHOLAT ISHA

Bacaan Niat Sholat Isya Arab

أُصَلِّى فَرْضَ العِشَاء ِأَرْبَعَ رَكَعاَتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً لله تَعَالَى

Bacaan Niat Sholat Isya Latin

“Usholli Fardlol I’syaa-i Arba’a Roka’aataim Mustaqbilal Qiblati Adaa-an Lillahi ta’aala”

Arti Niat Sholat Isya

“Aku niat melakukan sholat fardu isya 4 rakaat, sambil menghadap qiblat, saat ini, karena Allah ta’ala”

Niat sholat harus dilakukan sesuai dengan waktu sholat yang akan dijalankan masing-masing. Niat sholat bisa dilakukan di dalam hati atau dilafalkan dengan lembut.

Niat sholat diatas adalah niat sholat ketika melakukan sholat sendirian. Untuk niat sholat yang dilakukan secara berjamaah ada tambahannya setelah bacaan “Adaa-an”.

  • Tambahkan bacaan makmuman مَأْمُوْمًا ketika jadi makmum.

  • Tambahkan bacaan imaman إِمَامًا jika jadi imam.

Anda niatkan sholat yang Anda lakukan hanya karena Allah SWT dan semata-mata mengharapkan ridho Allah SWT.

2. Takbiratul Ihrom

2-takbiratul-ikhram

Setelah membaca niat sholat kemudian dilanjutkan dengan membaca takbiratul Ihram “Allahu Akbar”

3. Membaca Doa Iftitah

3-Membaca-Iftitah

Setelah takbiratul ihram, Anda harus membaca doa iftitah. Terdapat dua versi bacaan doa iftitah dan Anda bisa menggunakan salah satu diantaranya.

Bacaan Doa Iftitah

Doa-Iftitah copy

4. Membaca Surah Al-Fatihah

3-Membaca-Iftitah

Doa-Iftitah

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيم
مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ
صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

“Alhamdu lilla_hi rabbil ‘a_lamin. Ar Rahmaanirrahiim. Maaliki yaumiddiin. Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin. Ihdinash-shirraatal musthaqiim. Shiraathal ladziina an’amta ‘alaihim ghairil maghduubi ‘alaihim waladh-dhaalliin”

Artinya:NIAT SHHOLAT

“Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam, Yang Maha Pengasih, Lago Maha Penyayang, Pemilik hari pembalasan. Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.”

5. Membaca salah satu surah yang ada di Al Qur’an

Setelah membaca surat Al Fatihah, kemudian dilanjutkan dengan membaca Ayat Pada Al-Quran. Sangat disarankan membaca Surah-Surah pendek seperti Surat Al Ikhlas, Al ‘Asr, dan An Nasr.

Misalnya membaca surah Al-Ikhlas.

 

6. Ruku

4-Rukuk

Membaca doa ketika ruku, bacaan doa ruku dibaca sebanyak 3 kali.

Bersambung …….

Dipublikasi di FIQIH | Meninggalkan komentar

Sholawat Syifa


bacaan-sholawat-syifa

Sholawat Syifa Untuk Pengobatan

ALLAAHUMMA SHOLLI ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMADIN

TIBBI ALQULUBI WADAWAAIHA,

WA’AFIYATI AL’ABDAANI WASYIFAA’IHAA

WANUURI ALABSHORI WADHIYAA’IHA,

WA’ALAA ALIHI WASHOHBIHI WABARIK WASALLIM

ARTINYA:

Duhai Allah Limpahkan Kesejahteraan Kepada Baginda Nabi Muhammad shallallhu alaihi wa sallam, Sang Obat dan Penyembuh Hati Kami, Penyehat Badan dan Penyembuhnya, Penerang Penglihatan dan Cahayanya, Dan Limpahkan Kesejahteraan Itu Kepada Keluarga Dan Para Sahabatnya, Serta Limpahkanlah Keselamatan Atas Mereka.

Fadhilah Shalawat Syifa

  1. Jika menginginkan terang hatinya, serta kesehatan lahir dan batin, maka bacalah sholawat tibbil qulub ini 7 x, 21 x, 41 x atau 313 x setiap malam.
  2. Jika mengalami sakit perut, bacalah sholawat ini 7 x, tiap satu bacaan ditiupkan ke dalam satu gelas air, setelah tujuh kali bacaan kemudian airnya diminumkan. Atau dibaca 7 x, dan tiap satu kali ditiupkan ketelapak tangan, kemudian diusapakn ke bagian yang merasakan sakit. InsayAllah atas ijin Allah akan diberi keringanan rasa sakit, bahkan kesembuhan.
  3. Jika hati merasa was-was, tidak tenang, bingung, sumpek dan kondisi semacamnya, bacalah sholawat ini sebanyak-banyaknya. InsyaAllah akan menemui titik terang dengan segera.
  4. Bacalah shalawat ini secara istiqomah setelah sholawat wajib, insyaAllah akan dihindarkan dari berbagai macam penyakit, atas izin Allah.

Wallahu’aghlam

Dipublikasi di SALAWAT | Meninggalkan komentar

DOA IFTITAH


DOA IFTITAH,

Do’a Iftitah Ada 7 jenis yang Diajarkan Nabi Nabi Muhammad SAW

Do’a iftitah ini

  • adalah doa yang dibaca dalam sholat, setelah takbiratul ihram dan sebelum membaca Surat Al Fatihah. Bagaimana doa iftitah yang diajarkan Nabi Muhammad?

Dari Hadits-hadits shahih, kita mendapatkan doa iftitah yang diajarkan Rasulullah ternyata cukup beragam. Ada yang pendek, ada yang cukup panjang. Intinya adalah memuji Allah, memuliakan dan menyanjung-Nya.

Hukum Doa Iftitah

Doa iftitah hukumnya sunnah. Ia termasuk salah satu sunnah dalam sholat. Meskipun demikian, sholat tidak sempurna tanpa doa iftitah. Sebagaimana sabda beliau:

“Sholat seseorang tidak sempurna hingga ia bertakbir memuji Allah dan menyanjungnya kemudian membaca Alquran yang mudah baginya” (HR. Abu Daud dan Hakim; shahih)

Doa Iftitah 1

Doa iftitah ini biasa dibaca Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saat sholat wajib.

اَللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِى وَبَيْنَ خَطَايَاىَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ ، اللَّهُمَّ نَقِّنِى مِنَ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ ، اللَّهُمَّ اغْسِلْ خَطَايَاىَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ

Allahumma baa’id bainii wabaina khathaayaaya kamaa baa’adta bainal masyriqi wa maghribi, allahumma naqinii min khathaayaaya kamaa yunaqats tsaubul abyadhu minad danas. Allahummaghsilnii min khathaayaaya bil maa’i wats tsalji

Artinya:
Ya Allah jauhkanlah aku dari dosa-dosaku sebagaimana engkaujauh kan antara timur dan barat. Ya Allah bersihkanlah aku dari dosa-dosaku sebagaimana bersihnya pakaian putih dari kotoran. Ya Allah cucilah aku dari dosa-dosaku dengan air, salju dan embun.

Keterangan:
Doa ini berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam Muslim.

Doa Iftitah 2

Doa iftitah ini kadang dibaca Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saat sholat wajib dan kadang dibaca beliau saat sholat sunnah.

وَجَّهْتُ وَجْهِىَ لِلَّذِى فَطَرَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ حَنِيفًا (مُسْلِمًا) وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ إِنَّ صَلاَتِى وَنُسُكِى وَمَحْيَاىَ وَمَمَاتِى لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ اللَّهُمَّ أَنْتَ الْمَلِكُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ. أَنْتَ رَبِّى وَأَنَا عَبْدُكَ ظَلَمْتُ نَفْسِى وَاعْتَرَفْتُ بِذَنْبِى فَاغْفِرْ لِى ذُنُوبِى جَمِيعًا إِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ وَاهْدِنِى لأَحْسَنِ الأَخْلاَقِ لاَ يَهْدِى لأَحْسَنِهَا إِلاَّ أَنْتَ وَاصْرِفْ عَنِّى سَيِّئَهَا لاَ يَصْرِفُ عَنِّى سَيِّئَهَا إِلاَّ أَنْتَ لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِى يَدَيْكَ وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ أَنَا بِكَ وَإِلَيْكَ تَبَارَكْتَ وَتَعَالَيْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Wajjahtu wajhiya lilladzii fatharassamaawaati wal ardho, hanifawwamaa ana minal musyrikiina. Inna sholaatii wa nusukii, wa mahyaaya wa mamaatii lillahi rabbil ‘aalamiina, Laa syariikalahu wa bidzalika umirtu wa ana minal muslimiina.

Allahumma antal malika laa ilaha illaa anta anta rabii wa ana ‘abuka dzolamtu nafsii wa’taraftu bidzambii faa ghafirlii dzunuubii jamii’an innahu laayaghfirudzunuuba ilaa anta, wahdinii lah sanil akhlaaqi laa yahdii lahsanihaa illa anta, washrif ‘annisayyi ahaa, laa yashrifu ‘annii sayyiahaa illa anta,

labbaika wa sa’daika, walkhairukulluhu bi yadaika, wasyarru laisa ilaika, ana bika wa ilaika tabaarakta wa ta’aalaita, astaghfiruka wa atuubu ilaik.

Artinya:
Aku hadapkan wajahku kepada Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam keadaan tunduk (dan menyerahkan diri), dan aku bukanlah dari golongan orang-orang musyrik. Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah Tuhan semesta alam. Tidak ada sekutu bagiNya. Dan dengan yang demikian itu lah aku diperintahkan. Dan aku termasuk orang yang berserah diri.

Ya Allah engkau adalah penguasa. Tiada Tuhan kecuali Engkau Semata. Ya Allah Engkau adalah Tuhanku sedangkan aku adalah hambaMu. Aku telah berbuat aniaya terhadap diriku dan aku telah mengakui dosa-dosaku, maka ampunilah semua dosa-dosaku. Tiada yang dapat mengampuni dosa-dosaku melainkan Engkau.

Tunjukilah aku kepada akhlak yang terbaik. Tiada yang dapat membimbing kepada akhlak yang terbaik melainkan Engkau. Palingkanlah aku dari akhlak yang buruk. Tiada yang dapat memalingkan aku dari akhlak yang buruk melainkan Engkau. Aku penuhi panggilanmu Ya Allah. Aku patuhi perintahMu. Seluruh kebaikan berada dalam tanganmu sedangkan kejelekan apapun tidaklah pantas untuk dinisbatkan kepadaMu. Aku hanya dapat hidup karenaMu dan akan kembali kepadaMu. Maha berkah Engkau Yang Maha Tinggi, aku mohon ampunan dan bertaubat kepadaMu.

Keterangan:
Doa iftitah ini berdasarkan hadits shahih riwayat Imam Muslim. Sedangkan yang berada dalam kurung adalah tambahan dalam lafal hadits yang diriwayatkan Abu Daud.

Doa Iftitah 3

Lebih singkat dari doa di atas, doa iftitah ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah.

 

إِنِّى وَجَّهْتُ وَجْهِىَ لِلَّذِى فَطَرَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ حَنِيفًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ إِنَّ صَلاَتِى وَنُسُكِى وَمَحْيَاىَ وَمَمَاتِى لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ

Innii wajjahtu wajhiya lil ladzii fathoros samaawaati wal ardho haniifam mushlimaw wamaa ana minal musyrikiin, innaa sholaatii wanusukii wamahyaaya wamamaatii lillahirabbil aalamiin. Laa syariikalahu wa bidzaalika umirtu wa ana minal muslimin.

Artinya:
Sesungguhnya aku hadapkan wajahku kepada Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam keadaan tunduk dan aku bukanlah dari golongan orang-orang musyrik. Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah Tuhan semesta alam. Tidak ada sekutu bagiNya. Dan dengan yang demikian itu lah aku diperintahkan. Dan aku adalah orang yang pertama berserah diri.

Doa Iftitah 4

Doa iftitah ini diriwayatkan oleh Imam Muslim.

اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلاً

Allahu akbar kabiroo wal hamdu lillaahi katsiiro wa subhaanallaahibukrotaw wa ashiilaa

Artinya:
Allah Maha Besar dengan sebesar-besarnya, segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak. Mahasuci Allah pada waktu pagi dan petang.

Keterangan:
Doa iftitah ini awalnya dibaca oleh seorang sahabat. Selesai sholat, Rasulullah bertanya siapa yang membaca doa tersebut. Setelah sahabat yang membacanya menjawab, beliau bersabda: “Aku merasa kagum dengannya, langit-langit terbuka karena doa iftitah tersebut.”

Doa Iftitah 5

Doa iftitah ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim.

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ

Alhamdulillahi hamdan kasiiran tayyiban mubaarokan fiihi.

Artinya:
Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, baik dan penuh berkah

Keterangan:
Seperti doa iftitah di atas, doa iftitah ini awalnya juga dibaca oleh seorang sahabat. Selesai sholat, Rasulullah mensabdakan bahwa 12 malaikat berebut mencatat doa ini.

Doa Iftitah 6

Doa iftitah ini biasa dibaca Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saat sholat tahajud

اَللّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ نُوْرُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ، وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ قَيِّمُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ، وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ، أَنْتَ الْحَقُّ، وَوَعْدُكَ الْحَقُّ، وَقَوْلُكَ الْحَقُّ، وَلِقَاؤُكَ الْحَقُّ، وَالْجَنَّةُ حَقٌّ، وَالنَّارُ حَقٌّ، وَالسَّاعَةُ حَقٌّ،

اَللّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ، وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ، وَبِكَ خَاصَمْتُ، وَإِلَيْكَ حَاكَمْتُ. فَاغْفِرْ لِيْ مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ، أَنْتَ إِلٰهِيْ لاَ إِلٰهَ إِلاَّ أَنْتَ

Allahumma lakalhamdu anta nuurus samaawaati wal ardhi wa manfiihinna, walakal hamdu anta qoyyimus samaawaati wal ardhi waman fiihinna, walakal hamdu anta robbus samaawaati wal ardhi waman fiihinna, antal haqqu, wawa’dukal haqqu, waqoulukal haqqu, waliqoo’ukal haqqu, waaljannatu haqqu, waannaaru haqqu, wasysya’atu haqqu

Allahumma laka asylamtu, wabika amantu, wa’alaika tawakkaltu, wailaika anabtu, wabika khoosomtu, wailaika haakamtu, faghfirlii maa qoddamtu wamaa akhhortu, wamaa asrortu wamaa a’lantu, antal muqoddimu wa antal mu’akhiru, anta ilaahii laa ilaaha illa anta.

Artinya:
Ya Allah, hanya milik-Mu segala puji, Engkau cahaya langit dan bumi serta siapa saja yang ada di sana. Hanya milikMu segala puji, Engkau yang mengatur langit dan bumi serta siapa saja yang ada di sana. Hanya milikMu segala puji, Engkau pencipta langit dan bumi serta siapa saja yang ada di sana. Engkau Maha benar, janji-Mu benar, firman-Mu benar, pertemuan dengan-Mu benar. Surga itu benar, neraka itu benar, dan kiamat itu benar.

Ya Allah, hanya kepada-Mu aku pasrah diri, hanya kepada-Mu aku beriman, hanya kepada-Mu aku bertawakkal, hanya kepada-Mu aku bertaubat, hanya dengan petunjuk-Mu aku berdebat, hanya kepada-Mu aku memohon keputusan, karena itu, ampunilah aku atas dosaku yang telah lewat dan yang akan datang, yang kulakukan sembunyi-sembunyi maupun yang kulakukan terang-terangan. Engkau yang paling awal dan yang paling akhir. Engkau Tuhanku. Tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau.

Keterangan: Doa iftitah ini berdasarkan riwayat Imam Muslim, Ibnu Majah dan Ahmad

Doa Iftitah 7

Doa ini juga biasa dibaca Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saat sholat tahajud

اللَّهُمَّ رَبَّ جِبْرِيلَ وَمِيكَائِيلَ وَإِسْرَافِيلَ فَاطِرَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ أَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ، اهْدِنِي لِمَا اخْتُلِفَ فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِكَ إِنَّكَ أَنْتَ تَهْدِي مَنْ تَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Allahumma rabba jib rilaa wa miikaaiilaa, wa israafiila faa thirassamaa waati wal ardhi, ‘aalimalghoibi wasyahaadati anta tahkumu baina ‘ibaadika fiimaa kaanuu fiifi yakhtalifuuna. Ihdinii limakh tulifa fiihi minal haqqi bi idznika tajdi mantasyaa‘u ilashiraathimmustaqiim.

Artinya:
Ya Allah, Tuhannya Jibril, Mikail, dan Israfil. Pencipta langit dan bumi. Yang mengetahui yang gaib dan yang nampak. Engkau yang memutuskan diantara hamba-Mu terhadap apa yang mereka perselisihkan. Berilah petunjuk kepadaku untuk menggapai kebenaran yang diperselisihan dengan izin-Mu. Sesungguhnya Engkau memberi petunjuk kepada siapa saja yang Engkau kehendaki menuju jalan yang lurus.

Keterangan:
Doa iftitah ini berdasarkan riwayat Imam Muslim, Tirmidzi dan Abu Daud

Demikian beberapa doa iftitah yang diajarkan Rasulullah maupun yang disusun oleh sahabat kemudian mendapatkan legitimasi dari beliau.

Maraji’ Doa Ifitah:

  1. Fiqih Sunnah karya Sayyid Sabiq
  2. Fiqih Islam wa Adillatuhu karya Syaikh Wahbah Az Zuhaili
  3. Al Adzkar karya Imam Nawawi
  4. Sifat Shalat Nabi karya Syaikh Muhammad Nasiruddin Al Albani

Mohon maaf jika ada yang salah tulis. INNALILLAH

Dipublikasi di FIQIH | Meninggalkan komentar

MAKNA HAKIKAT IBLIS


MAKNA HAKIKAT IBLIS

Jika Allah tidak kita kenal, jikalaulah Iblis menyamar maka akan tunduk patuhlah mereka itu pada Iblis kerana perasan mendapat Petunjuk Allah. Tambahan pula Iblis tau kelemahan anak cucu Adam iaitu takut pada Rukun dan Hukum Syariat.
—————————————————————————————–
Maka Iblis pun menasihati janganlah kamu tinggalkan rukun 5 waktu, banyakkan zikir dan sebagainya. Bila sembahyang Iblis berdiri didepannya dan sembahyanglah manusia yang alim itu…….siapakah yang disembahnya ?
_
Firman Allah Al Jin–06
Dan bahawasanya ada beberapa orang laki laki diantara manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa laki laki diantara JIN , maka Jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.
_
Inilah diri manusia yang MENIPU dirinya sendiri. Buat Amal Ibadah kerana ikut Rukun &Hukum tanpa mendalami apa itu RUKUN dan apa itu HUKUM. Kajilah kedua-duanya mulai Alif hingga Ya ( muqaddam ) dan kepada Al-Quran bermula dengan ALIF–LAM-MIM.
—————————————————————————————–
Kalau tidak kenal Tuhan , bagaimana hendak tahu apa itu ALIF dan apa bedanya dengan HAMZAH sebab dari segi bunyi ianya sama. Alif untuk Tuhan ( Alif–Lam–Lam–Ha )tegak lurus dan tidak bengkok saperti hamzah.
_
ADAM dimurkai Allah dikeranakan IBLIS. Disebabkan ADAM pula, Iblis pula dilaknati Allah. Maka berkatalah Iblis di-dalam Al-Quran dengan penuh DENDAM :
_
Dan lantaran ENGKAU ( Allah ) telah sesatkan diri saya , pasti saya akan halangi mereka( manusia) ke JALAN YANG LURUS.
—————————————————————————————–
Maka bagi yang belum MENGENAL ZAT–SIFAT–ASMA’ & AFAL ALLAH , RASUL dan ULIL AMRI secara mendalam, ayat ( AMARAN IBLIS )diatas adalah satu ANCAMAN kepada mereka dan lain lain manusia sejagat.
_
Iblis SANGAT PINTAR dalam muslihatnya sehingga manusia ADAM & HAWA yang SUDAH BERJUMPA ALLAH pun DAPAT DIBELITNYA hingga di Murkai Allah dan dihantar kedunia ini.
_
Inikan pula kita sebagai manusia yang TIDAK PERNAH BERJUMPA ALLAH dan KENALPUN TIDAK akan ALLAH itu. Barangkali pada Iblis manusia sekarang ialah manusia hingusan yang layak diketuk ketuk kepalanya oleh Iblis.
—————————————————————————————–
Adakah MANUSIA YANG BERIMAN sanggup diketuk-ketuk kepalanya oleh Iblis ?

Mereka tentu tersenyum melihat Iblis dan Iblis pula melarikan diri bila nampak orang yang benar benar beriman di SISI TUHANnya. Kerana apa ? Kerana Iblis malu kerana orang orang itu tahu akan SILSILAH DIRI IBLIS itu……..
—————————————————————————————–
APA ITU IBLIS–Alif–Ba–Lam–Ya–Shin.
_
ALIF iktibar DIRI ZAT
BA iktibar SIFAT BAGI ZAT
LAM iktibar ASMA’ BAGI ZAT
YA iktibar AF’AL BAGI ZAT
SHIN iktibar SIRR BAGI ZAT
_
Manusia tidak mengenal Alif itu Zat, Ba itu menyatakan Sifat bagi Zat sehingga Zat itu MELIPUTI dan berAsma; ALLAH.
—————————————————————————————–
Dalam kata yang mudah ialah : IBLIS = MANUSIA YANG HIDUP TIDAK MELIHAT DIRINYA UJUD DARI ZAT DAN MEMBELAKANGKAN HAQ ZAT. Manusia cuma pandai mengatakan : Memanglah semuanya Gerak Allah TETAPI tidak mengaku kenyataan dan mengemukakan bermacam-macam dalih sehingga akan LENYAP HAQ ditutupi JASAD.
_
LENYAP HAQ–MENANG YANG BATIL = IBLIS.
_
Bagi yang mengetahui Zat itu ujud, bahawasanya Zat jua menyatakan ujudnya melalui KIDAM yakni Sifat Muhammad dan Sifatnya ialah BAQA’ didalam Jasad atau Tubuh manusia bernama atau berAsma’ sebagai ADAM.
_
Adapun YA–SHIN adalah KENYATAAN dan PERAKUAN ZAT kepada SIFAT. Itulah SIRR ( Rahsia ) yang penuh dengan HIKMAH.
—————————————————————————————–
Kesimpulannya IBLIS itu adalah PERBUATAN NAFSU manusia dalam mengerjakan Amal Ibadah dengan MENSYIRIKKAN yakni MENDUAKAN ALLAH.
_
Maksudnya ialah YA-SIN adalah manusia yang beriman yang MENGESAKAN ZAT–SIFAT–ASMA’ & AFAL dan BERTAUHID bahawa segala perbuatan mereka adalah Allah belaka….

(TUAK ILAHI)

Dipublikasi di TAUHID | Meninggalkan komentar

HU MUTLAK


HU MUTLAK

Dalam tingkat keAKUan yang ghaib atau yang tidak diketahui, HU menunjukkan tidak ada bakat untuk sifat, karna di sini HU tidak dapat di katakan apa-apa. HU itu tidak ada sifat dan tidak ada lakonan denganNya, lalu daripada apakah dunia ini dizahirkan?
___
Sifatlah yang menzahirkan dunia ini bukan HU, kehidupan dunia ini ialah kesan ( athar ) dari sifat hidup, karna pengetahuan yang zahir dalam dunia ini adalah kesan sifat pengetahuan HU, begitu juga iradat, kuasa, penglihatan, percakapan dan lain-lain adalah kesan sifat-sifat yang aktif
———————————————————————————-
Oleh itu baik dan jahat adalah daripada sifat dan bukan daripada HU, karna wujud mengambil bentuk hidup, iradat mengambil bentuk kehendak, pengetahuan mengambil bentuk akal, dan seterusnya, segala ini terzahir melalui anggota (organ)
___
Iradat berbentuk hati, kuasa berbentuk otak, dengar berbentuk telinga, melihat berbentuk mata, berkata berbentuk lidah, Tiap-tiap zarah (atom) adalah bentuk satu sifat, karna pengetahuan dan iradat mengambil bentuk sebagai dunia dalam wahdat, dunia adalah manifestasi atau zahirnya sifat dan lebih tepat lagi adalah satu bentuk atau rupa sifat, karna tiap-tiap sifat menampakkan dirinya dalam satu bentuk Persamaan dan perbedaan dalam bentuk adalah karna persamaan dan perbedaan dalam sifat
———————————————————————————-
Jika HU yang tidak terbatas itu mempunyai pengetahuan tentang diri HU yang tidak terbatas, maka HU itu tentulah terbatas pengetahuannya, Jika HU tidak ada pengetahuan demikian, maka Pengetahuan HU atau ilmu HU tentulah tidak sempurna
___
Jika Yang di ketahui itu tidak terbatas, bagaimanakah pengetahuan atau ilmu meliputinya ?

Jawabnya : HU yang mutlak mempunyai ilmu yang mutlak pada tingkatan ini yang mana kaitannya dengan ilmu, yang demikian adalah juga mutlak dan mengetahui diri HU sebagai mutlak, Sempadan tidak ada di sini, karna HU Mutlak tiada terbatas oleh ilmu yang mutlak
———————————————————————————-
Tidak ada sempadan bagi yang mengetahui dan yang diketahui, karna dalam tingkatan itu, apabila HU turun dari tingkatan itu, maka rupa atau bentuk yang diketahui menjelma dan itulah sempadan pertama, oleh yang demikian dalam tingkatan mutlak, ilmu dan lain-lain sifat hilang dalam HU dan HU tidak terbatas oleh ilmu, pada peringkat ini, HU adalah Batin pada diri zahir ku sendiri
———————————————————————————-
Sebenarnya ada zahir dan ada batin yaitu terbatas (tidak mutlak) dan mutlak Yang satu janganlah di campur adukkan dengan yang lain, Yang tidak mutlak mengetahui tentang tidak mutlaknya dan yang mutlak mengetahui tentang mutlaknya, titik air yang mengalir ke lautan mengetahui tentang titiknya dan juga tentang lautannya, Pengetahuan yang satu tidak bercampur dengan yang lain, Ia tahu tentang kecilnya kawasannya dan tentang tiada hingganya tak ada batasannya apabila HU dan ilmu bersatu, maka tidak ada yang meliputi dan yang diliputi meliputi yang diartikan sebagai Yang Lain di sini HU dan Sifat adalah satu
———————————————————————————-
Hakikat benda atau sesuatu perkara bebas daripada sifat dan tidak dapat di ceritakan, misalnya sakit, apakah itu sakit ? tidak dapat di ceritakan, tiada siapa yang dapat menceritakannya dengan perkataan atau dengan bunyi, dan memberi orang lain merasai hakikatnya, karna orang yang merasainya akan mengetahuinya dan apabila lebih daripada batasnya, maka berakhirlah dengan kematian, oleh itu hanya tidak termasuk dalam lingkungan pengetahuan fikiran dan kasyaf
———————————————————————————-
Sayyid Muhammad Gaysudraz ( Wali Allah dari Gulbarga ) pernah mengatakan : “jika engkau menyembelih ayam dan menanamnya dalam tanah, semua Auliya dan Nabi-nabi bekerjasama dengan seluruh kasyaf mereka tidak akan dapat mengatakan apakah hakikatnya pada masa itu”
———————————————————————————-
Ayam ialah objek atau benda yang boleh di ukur, engkau tidak tahu sedangkan sebutir pasir yang halus itu sebabnya ialah hakikat benda itu ialah HU Mutlak dan Wujud Mutlak yang terlampaui dari sempadan ilmu dan kasyaf, maka Ianya tidak di ketahui dan tidak boleh di ketahui, Sifat dapat di ketahui, sedangkan HU mempunyai sifat-sifat ‘hidup, berkehendak, berkuasa, melihat, melihat, mendengar’ dan lain-lain
___
Jika HU membuang sifat-sifat ini, maka HU tidak tahu apakah HU sebenarnya, Jikaia berlanjutan juga menyelidiki perkara ini, engkau bisa jadi gila. Jika dalam keadaan gila itu engkau mengetahui sesuatu engkau hanya tahu yang engkau tidak tahu, oleh yang demikian, percobaan hendak mengetahui hakikat HU adalah di larang, dan HU membuat engkau mengetahui Diri ku
———————————————————————————-
maksud Surah Ali Imran Ayat 30. Ilmu sendiri pun dalam keadaan ta’ajub tentang Hakikatnya karna ilmu itu sendiri meleburkan dirinya dalam HU, dalam peringkat HU, ilmu itu sendiri menjadi Hakikatnya, sehingga dan kecuali ada persaingan daripadanya, ianya tidak dapat tahu HU itu, bukanlah ilmu itu tidak sempurna karna tidak tahu HU, Jika ilmu dalam keadaan fana, maka usaha mencarinya pun akan fana juga, tidak ada kesan, di sini mencari adalah sebenarnya tidak mencari, puncak pengetahuan seseorang tentang HU ialah tidak tahu (jahil) dan ta’ajub.
———————————————————————————-
Zunnun Al-Misri ada berkata, yang berarti “Ilmu dalam Dzat Allah ialah jahil” Tidak ada Nabi atau Wali yang telah sampai atau akan sampai tingkat itu, Nabi pernah berkata yang berarti “Aku tiada tahu engkau lebih dari setakat yang dikehendaki oleh ilmu engkau” Tidak ada pandangan yang pernah melihat tajallinya HU, Jika ada pun ia mencapai tajalli ini, maka ianya binasa atau fana, karna tajalli HU melarutkan semua cermin manifestasi yang dengannya Nabi-nabi dan Aulia bersangkutan
———————————————————————————-
Nabi sebagai manifestasi atau kezahiran pertama dan Wali yang kedua, Peringkat kezahiran yang kedua larut dalam pertama dan yang pertama larut dan kedua-duanya meresap masuk ke dalam Yang Tidak TERBATAS, tajalli sifat larut dalam tajalli Zat dan Yang Mutlak jua yang kekal
HU tidak ada yang kedua dan pintu kamar HU tertutup dari semua yang di luar, seseorang akan masuk ke dalamnya apabila meninggalkan diri dan menjadi tidak ada diri lagi, Yang berarti, “Sesungguhnya HU meliputi segala-galanya” Meliputi ini adalah ibarat air meliputi ombak, salju, embun, hujan batu dan lain-lain.
———————————————————————————-
HU berarti ZAT MUTHLAK yaitu tanpa mengatakan sifat, Nama AKU menunjukkan ZAT dengan semua Sifat KU, AHAD ialah peringkat di mana semua pengetahuan tidak ada , AKU itu ENGKAU tidak boleh menggunakan perkataan ini itu kepada AKU, WAHID ialah peringkat di mana Wujud AKU itu di isbatkan
___
HU berserta dengan tidak terbatas dan sifat-sifat tidak ada batasnya, dan ini tidak ada konsep untuk menceritakannya yaitu HU tidak ada sifat-sifat terbatas, Maka itulah yang dikatakan Hadith Nabi
———————————————————————————-
“AKU lah yang Awal yang tidak ada apa pun sebelum KU, AKU lah yang Terakhir yang tidak ada apa pun selepas KU, AKU lah Yang Zahir yang tidak ada apa pun atas KU, AKU lah yang Batin yang tidak ada apa pun di bawah KU”.
___
Tidak ada ghayr (yang lain), Adanya “ghayr” adalah mungkin hanya apabila wujud HU boleh disempadankan, Nama bukanlah hanya perkataan saja tetapi ianya adalah Zat yang di namakan itu berserta dengan Sifat KU
___
“PAHAMI PELAN-PELAN, JIKA SALAH TAFSIR MAKA PATAL-LAH AKIBATNYA”

(TUAK ILAHI)

Dipublikasi di TAUHID | Meninggalkan komentar